Perusahaan farmasi internasional Bristol Myers Squibb pada 14 April 2007 lalu mengumumkan sebuah riset tentang resistensi virus hepatitis B terhadap obat yang diberikan. Bristol mengklaim data yang terkumpul selama 4 tahun (n=663) terakhir menunjukkan insidens resistensi entecavir tetap rendah pada pasien hepatitis B kronik yang belum pernah mendapatkan terapi nukleosida. Entecavir merupakan obat paten yang dikeluarkan oleh Bristol. Obat tersebut merupakan obat resep dokter yang digunakan untuk infeksi virus hepatitis B kronik pada orang dewasa akibat multiplikasi virus yang merusak jaringan hati. Sayangnya belum ada studi penggunaan entecavir untuk penderita di bawah usia 16 tahun.
Pihak Bristol sendiri tak menampik efek penggunaan entecavir meski efikasinya tinggi. Pasien yang mengonsumsi entecavir harus segera memberitahukan ke dokter bila timbul gejala lemah, nyeri otot yang tak wajar, sulit bernapas, nyeri lambung (mual dan muntah), demam, pusing, dan denyut jantung cepat dan tak teratur. Menurut pihak Bristol efek samping tersebut mengindikasikan adanya kondisi serius yang disebut asidosis laktat. Efek samping tersebut merupakan gawat darurat dan harus ditangani di rumah sakit.
Dari analisa riset tersebut, hanya 2 pasien atau kurang dari 1 persen yang mengalami lonjakan virologis akibat resistensi entecavir pada tahun ketiga. Sementara pada tahun keempat tidak ada tambahan pasien yang mengalami resistensi. Sedangkan pada lamivudine, obat etik yang sudah sejak lama digunakan untuk terapi hepatitis B, ditemukan data resistensi terhadap lamivudine terjadi pada 15 persen pasien selama tahun keempat. Riset itu sendiri sudah dipresentasikan pada pertemuan tahunan ke-42 Asosiasi Riset Penyakit Hati Eropa (EASL) di Barcelona, Spanyol.
Menurut riset tersebut resistensi terjadi saat virus bermutasi guna menghindari efek obat. Bagi kalangan ahli penyakit hati hal tersebut tantangan tersendiri karena resistensi dapat menurunkan efikasi obat ketika terapi sedang dilakukan. Hal tersebut tentu membahayakan masa depan pengobatan penyakit hepatitis B.
Prof Lesmana pun mengakui data tersebut. Menurut dia riset atas lamivudine menyatakan pada tahun pertama saja resistenya sudah mencapai 23 persen. Sedangkan pada tahun kelima sudah sebesar 80 persen.
Pada terapi obat oral, sering digunakan dalam jangka waktu lama. Itu sebabnya faktor resistensi menjadi pilihan yang penting. Menurut Prof Lesmana, di Eropa dan Amerika terapi injeksi menjadi pilihan pertama. Terapi tersebut hanya diberikan paling lama setahun. Tetapi menurutnya interferon (injeksi) tersebut dampaknya berupa kerontokan rambut. Itulah sebabnya, di Indonesia pasien hepatitis B lebih memilih terapi oral.
Hal lain yang juga penting diperhatikan, kata Prof Lesmana, masih mahalnya terapi oral. “Harganya bisa Rp 2 juta,” katanya. Harga tersebut untuk pengobatan sebulan. Demikian pula interferon yang sekali injeksi Rp 2 juta per minggu selama setahun.
Menurut Prof Lesmana, pemerintah seharusnya memperhatikan juga penyakit hepatitis B sejajar dengan penyakit ginjal dan penyakit lainnya seperti HIV/AIDS dan flu burung. Pemerintah mestinya memasukkannya ke program Askeskin sehingga bisa meringankan pasien di Indonesia. “Ini yang sedang kita perjuangkan,” katanya. (Mangku).